Kamis, 19 November 2015

Helena

Hari ini mendung. Bukan, ini terlalu kelabu. Tempat ini, gedung-gedung tinggi ini, sepertinya familiar. Entahlah, tiba-tiba ketika aku memikirkan semua ini, nafasku menjadi sesak. Aku memutuskan untuk duduk dibangku jalanan yang berada tepat disamping sebuah cafe. Aku memperhatikan mobil-mobil yang berlalu-lalang dan orang-orang yang bergantian melewati tempat ini. Membosankan, untuk apa aku berada ditempat ini? Lalu mataku menangkap sesuatu. Aku melihat seorang gadis cantik dengan gaun hitam sedang tergesa-gesa. Itu kamu, Helena? Ada apa, dan kemana kamu ingin pergi?
Aku mengikutinya dari belakang. Aku berfikir, seperti sudah lama tidak bertemu denganmu. Kamu semakin cantik, wajah kamu semakin dewasa, semakin indah dengan rambut kamu yang kamu biarkan terurai; sewaktu dicium angin. Banyak perasaan yang ingin aku sampaikan kepadamu dalam pertemuan kita kali ini.
Kenapa ya, jantungku rasanya mulai memburu seolah ini pertama kalinya aku jatuh cinta kepadamu?
Kenapa ya, tangan ini seolah-olah mempunyai nyawa sendiri dan berkata “aku ingin memeluk tubuhmu dan tak akan membiarkanmu pergi; lagi.”
Lagi? Ada perasaan yang seolah mengatakan bahwa aku sudah pernah meninggalkannya.
Rasanya rindu, padahalkan kamu masih jadi milikku.
Kusimpan semua perkataanku didalam hati sambil mengikutinya.
Tiba-tiba kamu berhenti. Aku melihatmu sedang berdiri menghadap kesebuah restoran.
Iya aku ingat, dulu kita sering memesan makanan disana. Aku ingat bagaimana kamu mengajak aku untuk makan ditempat itu dengan rayuanmu dan caramu yang menunjukkan sifat manjamu padaku. Kamu bilang, semua makanan ditempat itu enak-enak, dan juga, kamu tidak mau makan ditempat lain selain tempat itu. Aku juga ingat saat kamu bilang, kamu hanya mau makan dimeja pertama, meja dengan motif volkadot yang ada didekat pintu masuk. Kamu bilang meja itu istimewa. Aku tidak pernah menanyakan alasannya kenapa, mungkin saja karena kamu memang menyukai motifnya.
Aku melihatmu berdiri disana cukup lama. Suasananya mulai berubah dan aku bisa merasakannya. Udara disekitarku juga ikut menipis dan orang-orang yang berjalan disekitarku seolah-olah ikut melambat. Perasaan apa ini?
Air matamu yang pertama jatuh. Aku tak tahu bahwa mata indahmu itu bisa lebih kejam daripada langit yang sedari tadi mendung tanpa menjatuhkan apapun. Aku melihat kamu berusaha menahan sesuatu dengan sangat keras, tetapi air matamu berbicara denga jelas. Kamu tidak bisa berbohong.
Kenapa Helena? Aku bertanya untuk kedua kalinya didalam hati.
Tiba-tiba kamu tersontak, aku memalingkan wajahku darimu dan menangkap—apa—yang kau tangkap dengan matamu. Aku melihat kearah restoran itu, seorang pelayan restoran yang sepertinya mengenalmu menggedor-gedor kaca restoran itu dari dalam. Aku membaca gerak bibirnya, dia bilang “Helen.. Helen..,” seperti itu, dia menyebut namamu. Kamu menyeka air matamu dengan kedua tanganmu, lalu berlari dari tempat itu. Aku sempat melihat pelayan itu mengatakan sesuatu yang lain, kalau aku tidak salah, seperti “Aku turut berduka untukmu.”
Aku berusaha mengejarmu sambil melewati trotoar diantara dua gedung kembar yang sangat besar. Kamu berlari sangat cepat. Sesekali kamu melompati genangan air yang tergenang dijalan, hal yang sama yang aku lakukan dari arah belakangmu.
Kali ini aku yang berhenti. Aku merasa kamu berlari untuk berusaha menjauhkan dirimu dari sesuatu. Sesuatu yang tidak nyata. Helena, kamu berusaha untuk berlari, menjauh, dari kenyataan. Aku membenci diriku untuk tidak mengetahui—apa yang seharusnya—aku ketahui terhadapmu. Aku berlari lebih cepat kali ini dan berusaha untuk menangkapmu.
Saat tanganku menyentuh pundakmu, aku tak percaya, tanganku menembus tubuhmu, dirimu. Nafasku menjadi sangat sesak.
"Apa yang terjadi? Ada apa ini? aku mengayun-ayunkan tanganku perlahan ketubuhnya karena aku masih tak percaya. Semakin cepat, hingga akhirnya aku berhenti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku, Helena?!" Aku berteriak sangat keras disampingnya. Dia menghentikan langkah kakinya. Mungkinkah dia mendengarku?
Aku mengitari tubuhnya selangkah demi selangkah dengan tempo yang sangat lambat. Matanya, aku melihat matanya dengan tatapan kosong. Aku tidak kuat, dan terjatuh dengan lemas disampingnya. “Kenapa, kenapa kau tinggalkan aku sendirian disini Levin?” Seperti suara petir yang menggelegar, aku mendengar suaranya lirih. Tubuhku terasa seperti sebuah ruang kosong yang tak berisi.
"a..paa..?!" Aku tak percaya dengan apa yang sudah aku dengar.
Aku memegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Sangat erat, sampai aku tak sadar sudah menjambak rambutku dengan sangat kuat. Tubuhku bergetar hebat, tak pernah aku mengalami hal yang seperti ini.
Hening, seolah-olah tempat ini hanya ada 2 orang, aku dan gadis berambut pirang ini saja. Kali ini tatapannya mencari-cari sesuatu dan dia menemukannya.
Dia berjalan kesebuah tempat yang menjual berbagai macam jenis bunga.
“Beli bunga mawarnya satu ikat ya, dik.” Helena berkata kepada penjual bunga yang masih berumur 11 tahun ditepi jalan. Meskipun aku tidak bisa menyentuh raganya, tetapi dia masih tetap menjadi orang yang aku cinta. Maksudku, sifatnya seperti orang yang aku cinta tidak berubah, seprti orang yang aku kenal selama aku masih hidup. Aku ingin tahu bagaimana akhir dari cerita ini. Pertanyaanku yang mengatakan kamu ingin pergi kemana belum terjawab sampai sekarang.
Gadis yang mengenakan gaun hitam itu mulai berjalan lagi, menelusuri gedung hingga gedung terakhir. Aku berusaha mencegahnya dengan cara berdiri didepannya sambil menyilang-nyilangkan tanganku. Tidak ada gunanya, dia berjalan terus dan menembus tubuhku hingga kejalan yang lebih sepi. Jalannya terbuat dari tanah. Tidak ada aspal, tidak ada semen yang menutupinya. Tempat ini mempunyai jalan yang berkelok-kelok dan berliku-liku. Disepanjang jalan terdapat banyak pepohonan. Aku bisa melihatnya dikiri dan dikanan jalan.
Daun-daun yang jatuh terlalu indah untuk berduka. Aku berkata seperti itu, mencoba mengutuk keadaan. Helena memangku seikat bunga mawar ditangannya, seolah-olah itu bayinya sendiri. Aku tak bisa membendung air mataku lagi. Ini terlalu indah untuk berduka! Kataku, Tapi ini belum berakhir, Helena masih berjalan terus hingga dia berhenti disebuah tempat yang sudah aku tebak dengan tepat. Rumah terakhir, tempat semua orang berada. Sesaat setelah berada digerbang pemakaman, aku melihat Helena tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Air mata membasahi kedua pipinya dengan deras.
Seperti ada pisau yang menancap dikakinya, dia kesulitan untuk masuk kedalam pemakaman. Hingga, dia terjatuh dipemakamanku. “Rest In Peace, Levin Rian,” tertulis disalib kuburanku.
Aku duduk disampingnya mencoba untuk tersenyum kearahnya. “Aku mencintaimu, Helena. Aku akan menjadi malaikat penjagamu.” Helena meletakkan seikat bunga yang dia beli diatas kuburanku sambil mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah aku lupakan selamanya.
“Hatiku adalah rumahmu. Kamu akan tetap hidup disana. Selagi aku mempunyai waktu untuk mengingatmu, atau merindukan semua kenangan kita, kamu akan abadi. Levin, kamu mengatakan itu padaku, dan aku percaya itu.” Helena berusaha untuk bangkit berdiri dan aku mengangkat tubuhnya dengan tanganku. Dia membalikkan wajah serta tubuhnya dari kuburanku. Aku berjalan dari depan tubuhnya dan mendekatinya perlahan, jarak antara wajahku dan wajahnya sangat dekat sekali. Aku mecium bibir tipisnya dengan mesra. Ciuman terakhir yang dapat aku berikan kepadanya untuk menunjukkan kasih sayangku. Aku melihatnya hanya diam, berdiri mematung. Keberadaanku mulai pudar, dia masih juga belum bergerak. Tidak apa-apa, kataku. Perlahan rohku mulai naik “Ke Sana.” Lalu, aku melihatnya bergerak, tangan kirinya menyentuh bagian bibirnya yang tipis. Aku tersenyum sambil terbang ke surga.

Dalam kenyataan ini kita tidak lagi bersama, tetapi dirimu dan aku yang lain di dunia paralel, mungkin kita sedang bahagia.

Hanya duduk termenung sambil berimajinasi.


TAMAT