Hari ini mendung. Bukan, ini terlalu kelabu. Tempat ini,
gedung-gedung tinggi ini, sepertinya familiar. Entahlah, tiba-tiba ketika aku
memikirkan semua ini, nafasku menjadi sesak. Aku memutuskan untuk duduk
dibangku jalanan yang berada tepat disamping sebuah cafe. Aku memperhatikan
mobil-mobil yang berlalu-lalang dan orang-orang yang bergantian melewati tempat
ini. Membosankan, untuk apa aku berada ditempat ini? Lalu mataku menangkap
sesuatu. Aku melihat seorang gadis cantik dengan gaun hitam sedang tergesa-gesa.
Itu kamu, Helena? Ada apa, dan kemana kamu ingin pergi?
Aku mengikutinya dari belakang. Aku berfikir, seperti sudah lama
tidak bertemu denganmu. Kamu semakin cantik, wajah kamu semakin dewasa, semakin
indah dengan rambut kamu yang kamu biarkan terurai; sewaktu dicium angin.
Banyak perasaan yang ingin aku sampaikan kepadamu dalam pertemuan kita kali
ini.
Kenapa ya, jantungku rasanya mulai memburu seolah ini pertama
kalinya aku jatuh cinta kepadamu?
Kenapa ya, tangan ini seolah-olah mempunyai nyawa sendiri dan
berkata “aku ingin memeluk tubuhmu dan tak akan membiarkanmu pergi; lagi.”
Lagi? Ada perasaan yang seolah mengatakan bahwa aku sudah pernah
meninggalkannya.
Rasanya rindu, padahalkan kamu masih jadi milikku.
Kusimpan semua perkataanku didalam hati sambil mengikutinya.
Tiba-tiba kamu berhenti. Aku melihatmu sedang berdiri menghadap
kesebuah restoran.
Iya aku ingat, dulu kita sering memesan makanan disana. Aku
ingat bagaimana kamu mengajak aku untuk makan ditempat itu dengan rayuanmu dan
caramu yang menunjukkan sifat manjamu padaku. Kamu bilang, semua makanan
ditempat itu enak-enak, dan juga, kamu tidak mau makan ditempat lain selain
tempat itu. Aku juga ingat saat kamu bilang, kamu hanya mau makan dimeja
pertama, meja dengan motif volkadot yang ada didekat pintu masuk. Kamu bilang
meja itu istimewa. Aku tidak pernah menanyakan alasannya kenapa, mungkin saja
karena kamu memang menyukai motifnya.
Aku melihatmu berdiri disana cukup lama. Suasananya mulai
berubah dan aku bisa merasakannya. Udara disekitarku juga ikut menipis dan
orang-orang yang berjalan disekitarku seolah-olah ikut melambat. Perasaan apa
ini?
Air matamu yang pertama jatuh. Aku tak tahu bahwa mata indahmu
itu bisa lebih kejam daripada langit yang sedari tadi mendung tanpa menjatuhkan
apapun. Aku melihat kamu berusaha menahan sesuatu dengan sangat keras, tetapi
air matamu berbicara denga jelas. Kamu tidak bisa berbohong.
Kenapa Helena? Aku bertanya untuk kedua kalinya didalam hati.
Tiba-tiba kamu tersontak, aku memalingkan wajahku darimu dan
menangkap—apa—yang kau tangkap dengan matamu. Aku melihat kearah restoran itu,
seorang pelayan restoran yang sepertinya mengenalmu menggedor-gedor kaca
restoran itu dari dalam. Aku membaca gerak bibirnya, dia bilang “Helen..
Helen..,” seperti itu, dia menyebut namamu. Kamu menyeka air matamu dengan
kedua tanganmu, lalu berlari dari tempat itu. Aku sempat melihat pelayan itu
mengatakan sesuatu yang lain, kalau aku tidak salah, seperti “Aku turut berduka
untukmu.”
Aku berusaha mengejarmu sambil melewati trotoar diantara dua
gedung kembar yang sangat besar. Kamu berlari sangat cepat. Sesekali kamu
melompati genangan air yang tergenang dijalan, hal yang sama yang aku lakukan
dari arah belakangmu.
Kali ini aku yang berhenti. Aku merasa kamu berlari untuk
berusaha menjauhkan dirimu dari sesuatu. Sesuatu yang tidak nyata. Helena, kamu
berusaha untuk berlari, menjauh, dari kenyataan. Aku membenci diriku untuk
tidak mengetahui—apa yang seharusnya—aku ketahui terhadapmu. Aku berlari lebih
cepat kali ini dan berusaha untuk menangkapmu.
Saat tanganku menyentuh pundakmu, aku tak percaya, tanganku
menembus tubuhmu, dirimu. Nafasku menjadi sangat sesak.
"Apa yang terjadi? Ada apa ini? aku mengayun-ayunkan
tanganku perlahan ketubuhnya karena aku masih tak percaya. Semakin cepat,
hingga akhirnya aku berhenti. Apa yang sebenarnya terjadi padaku,
Helena?!" Aku berteriak sangat keras disampingnya. Dia menghentikan
langkah kakinya. Mungkinkah dia mendengarku?
Aku mengitari tubuhnya selangkah demi selangkah dengan tempo
yang sangat lambat. Matanya, aku melihat matanya dengan tatapan kosong. Aku
tidak kuat, dan terjatuh dengan lemas disampingnya. “Kenapa, kenapa kau
tinggalkan aku sendirian disini Levin?” Seperti suara petir yang menggelegar,
aku mendengar suaranya lirih. Tubuhku terasa seperti sebuah ruang kosong yang
tak berisi.
"a..paa..?!" Aku tak percaya dengan apa yang sudah aku
dengar.
Aku memegangi kepalaku dengan kedua tanganku. Sangat erat,
sampai aku tak sadar sudah menjambak rambutku dengan sangat kuat. Tubuhku
bergetar hebat, tak pernah aku mengalami hal yang seperti ini.
Hening, seolah-olah tempat ini hanya ada 2 orang, aku dan gadis
berambut pirang ini saja. Kali ini tatapannya mencari-cari sesuatu dan dia
menemukannya.
Dia berjalan kesebuah tempat yang menjual berbagai macam jenis
bunga.
“Beli bunga mawarnya satu ikat ya, dik.” Helena berkata kepada
penjual bunga yang masih berumur 11 tahun ditepi jalan. Meskipun aku tidak bisa
menyentuh raganya, tetapi dia masih tetap menjadi orang yang aku cinta.
Maksudku, sifatnya seperti orang yang aku cinta tidak berubah, seprti orang
yang aku kenal selama aku masih hidup. Aku ingin tahu bagaimana akhir dari
cerita ini. Pertanyaanku yang mengatakan kamu ingin pergi kemana belum terjawab
sampai sekarang.
Gadis yang mengenakan gaun hitam itu mulai berjalan lagi,
menelusuri gedung hingga gedung terakhir. Aku berusaha mencegahnya dengan cara
berdiri didepannya sambil menyilang-nyilangkan tanganku. Tidak ada gunanya, dia
berjalan terus dan menembus tubuhku hingga kejalan yang lebih sepi. Jalannya
terbuat dari tanah. Tidak ada aspal, tidak ada semen yang menutupinya. Tempat
ini mempunyai jalan yang berkelok-kelok dan berliku-liku. Disepanjang jalan
terdapat banyak pepohonan. Aku bisa melihatnya dikiri dan dikanan jalan.
Daun-daun yang jatuh terlalu indah untuk berduka. Aku berkata
seperti itu, mencoba mengutuk keadaan. Helena memangku seikat bunga mawar
ditangannya, seolah-olah itu bayinya sendiri. Aku tak bisa membendung air
mataku lagi. Ini terlalu indah untuk berduka! Kataku, Tapi ini belum berakhir,
Helena masih berjalan terus hingga dia berhenti disebuah tempat yang sudah aku
tebak dengan tepat. Rumah terakhir, tempat semua orang berada. Sesaat setelah
berada digerbang pemakaman, aku melihat Helena tidak bisa mengendalikan dirinya
lagi. Air mata membasahi kedua pipinya dengan deras.
Seperti ada pisau yang menancap dikakinya, dia kesulitan untuk
masuk kedalam pemakaman. Hingga, dia terjatuh dipemakamanku. “Rest In Peace,
Levin Rian,” tertulis disalib kuburanku.
Aku duduk disampingnya mencoba untuk tersenyum kearahnya. “Aku
mencintaimu, Helena. Aku akan menjadi malaikat penjagamu.” Helena meletakkan
seikat bunga yang dia beli diatas kuburanku sambil mengatakan sesuatu yang
tidak akan pernah aku lupakan selamanya.
“Hatiku adalah rumahmu. Kamu akan tetap hidup disana. Selagi aku
mempunyai waktu untuk mengingatmu, atau merindukan semua kenangan kita, kamu
akan abadi. Levin, kamu mengatakan itu padaku, dan aku percaya itu.” Helena
berusaha untuk bangkit berdiri dan aku mengangkat tubuhnya dengan tanganku. Dia
membalikkan wajah serta tubuhnya dari kuburanku. Aku berjalan dari depan
tubuhnya dan mendekatinya perlahan, jarak antara wajahku dan wajahnya sangat
dekat sekali. Aku mecium bibir tipisnya dengan mesra. Ciuman terakhir yang
dapat aku berikan kepadanya untuk menunjukkan kasih sayangku. Aku melihatnya
hanya diam, berdiri mematung. Keberadaanku mulai pudar, dia masih juga belum
bergerak. Tidak apa-apa, kataku. Perlahan rohku mulai naik “Ke Sana.” Lalu, aku
melihatnya bergerak, tangan kirinya
menyentuh bagian bibirnya yang tipis. Aku tersenyum sambil terbang ke surga.
Dalam kenyataan ini kita tidak lagi bersama, tetapi dirimu dan
aku yang lain di dunia paralel, mungkin kita sedang bahagia.
Hanya duduk termenung sambil berimajinasi.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar