"Fo, kenapa kau termenung? dari tadi kau hanya melihat ke arah api dilampu semprong itu."
"kau memikirkan sesuatu? katakan kepada kami. Jika tidak, perasaan itu akan terus menghantuimu.
lagipula apa gunanya kami sebagai sahabatmu, jika kau tak mau berbagi cerita kepada kami."
aku sedang berfikir tentang kita dan hari esok.
"apa yang salah tentang kita? apa yang salah tentang hari esok?".
Entahlah, aku juga tidak yakin Ca. Aku tak ingin menyalahkan hari esok, karena semua berawal dari kita. Jika kita mengawalinya dengan sebuah kesalahan maka sampai akhir adalah sebuah kesalahan.
Aku hanya takut..
"Takut kalau kita tidak bisa menjadi siapa-siapa, dan takut kalau tak ada satupun yang mau menghargai kita."
"Takut? kita mempunyai Tuhan yang kuat! kau ingat? tak ada alasan buat kita untuk takut!"
"tapi Bal, kita manusia, dan mempunyai perasaan takut itu wajar. Lagi pula Tuhan tidak akan langsung mau menolong umatnya, Ia ingin melihat kesungguhan umatnya terlebih dahulu.
Jika kita benar bersungguh-sungguh..
sekalipun kita gagal, Ia akan menolong kita. Hanya saja kita harus memohon kepadaNya, dengan berdoa."
"Denis benar, bersungguh-sungguh sambil diiringi dengan doa, Tuhan akan mengutus malaikatnya untuk selalu dekat dengan kita. Itu adalah kunci yang paling penting."
Kadang yang kita pikirkan adalah yang apa kita inginkan, namun Tuhan tidak akan mewujudkannya, kalau itu tidak menjadi yang terbaik buat kita. Harapan yang terlalu tinggi akan terlalu sakit bila tidak sesuai dengan kenyataan. Tapi itu semua tidak menghalangi kita untuk bermimpi. Dan Jangan pernah takut untuk bermimpi!
ya sudah.. ya sudah.. terus menerus memikirkan masa depan hanya akan membuat kita menjadi gila, lebih baik kita jalani saja hari ini.
"iya, kau benar Bal, tapi sepertinya kegelapan ini juga benar bahwa hari sudah malam."
"Iya... hari semakin gelap, lebih baik kita cepat pulang kalau tidak kita akan dimarahi."
"Iya itu benar, kalian taukan gimana ibuku kalau sudah marah?" hiiii...!
"Ternyata ibumu galak juga ya? ibuku juga begitu."
ha..ha..ha..ha..
"Kami pulanglah ya Fo, sebaiknya kau pulang juga."
"Ya sudah, sampai besok. Kalian hati-hatilah dijalan"
"Ya.."
***
Salahkah kalau aku mencemaskan hari esok? padahal aku tertawa bersama teman-temanku malam ini.
setiap orang mempunyai harapan dihatinya masing-masing. Seperti bunga, harapan itu diawalai dengan kuncup, sama seperti pucuk bunga yang belum mekar. Awalnya orang yang berharap dan bermimpi akan merasa takut, namun ketika sudah jelas arah jalannya, bahwa harapan nya akan terkabul..
maka dia akan...
"ah, hujan..??"
Lebih baik aku cepat-cepat pulang, kalau tidak ibuku akan cemas.
"Selamat Malam."
waw
BalasHapuskeren